Balita Simpanse: Pemberani Dunia Primata

0
8

Simpanse berusia antara dua dan lima tahun menunjukkan perilaku pengambilan risiko yang paling tinggi, melakukan manuver kanopi yang jauh lebih sembrono dibandingkan simpanse yang lebih tua. Para peneliti yang mempelajari simpanse liar di Uganda menemukan bahwa primata muda ini tiga kali lebih mungkin melakukan lompatan dan jatuh yang berbahaya dari dahan dibandingkan dengan simpanse dewasa. Perilaku ini terus menurun setelah usia lima tahun, menurun sekitar 3% setiap tahun.

Mengapa Balita Simpanse Mengambil Risiko

Penelitian yang dipublikasikan di iScience pada tanggal 7 Januari ini mengungkapkan adanya hubungan penting antara usia dan keberanian pada simpanse. Meskipun manusia remaja secara statistik lebih rentan terhadap cedera parah, para peneliti berpendapat bahwa balita manusia akan menunjukkan perilaku sembrono yang sama jika tidak terus-menerus diawasi oleh orang tua dan pengasuhnya. Ahli biologi Lauren Sarringhaus menjelaskan, “Jika manusia mengurangi pengawasannya, anak-anak kita akan menjadi lebih berani.”

Perbandingan ini menyoroti perbedaan mendasar antara gaya pengasuhan manusia dan simpanse. Induk simpanse membesarkan anak-anaknya sendirian, dengan sedikit bantuan dari ayah, keluarga besar, atau kelompok sosial yang lebih luas. Simpanse menempel pada induknya selama lima tahun pertama kehidupannya, namun pada usia dua tahun, mereka mulai menjelajah secara mandiri. Berbeda dengan manusia, ibu tidak dapat secara fisik melakukan intervensi pada perubahan kanopi yang berisiko tinggi.

Peran Alloparenting dalam Pembangunan Manusia

Sebaliknya, masyarakat manusia sangat bergantung pada alloparents – pengasuh di luar orang tua langsung. Dari guru hingga pelatih, anak-anak manusia modern menghabiskan banyak waktu di lingkungan yang diawasi. Beberapa pakar perkembangan kini mengkritik munculnya “pengasuhan helikopter”, yang mana anak-anak memiliki lebih sedikit waktu bermain tanpa pengawasan dibandingkan generasi sebelumnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pola pengasuhan secara mendasar mempengaruhi perilaku pengambilan risiko. Psikolog Lou Haux, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mencatat, “Ini adalah penelitian yang sangat menarik… bagaimana pengasuhan memengaruhi perilaku pengambilan risiko.”

Data dan Pengamatan

Penelitian ini melibatkan pengamatan lebih dari 100 simpanse berusia dua hingga 65 tahun di Proyek Simpanse Ngogo di Uganda. Para peneliti mengukur perilaku berisiko dengan melacak seberapa sering simpanse kehilangan kontak dengan dahan pohon. Data menunjukkan bahwa simpanse remaja (usia 10-14 tahun) dua kali lebih mungkin melakukan manuver berbahaya dibandingkan simpanse dewasa.

Sekitar sepertiga simpanse menunjukkan bukti pernah mengalami patah tulang, namun simpanse yang lebih kecil dan lebih ringan (dan manusia balita) cenderung tidak mengalami cedera parah akibat terjatuh, sehingga menjadikan masa kanak-kanak sebagai waktu yang ideal untuk melakukan eksplorasi.

Implikasi yang Lebih Luas

Sarringhaus menekankan bahwa tujuan penelitian ini bukanlah untuk memberikan nasihat dalam mengasuh anak. Sebaliknya, penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih luas tentang bagaimana praktik pengasuhan anak berevolusi. Haux menyimpulkan, “Kami mencoba membangun ruang yang sangat aman di sekitar anak-anak kami… Bagaimana semua ini berkembang?”

Penelitian ini menggarisbawahi bagaimana struktur sosial dan metode pengasuhan membentuk perilaku pengambilan risiko di seluruh spesies. Dengan mempelajari simpanse, para ilmuwan mendapatkan wawasan tentang tekanan evolusi yang mungkin mendorong pola pengasuhan manusia dan keseimbangan antara keselamatan dan eksplorasi.