April menghadirkan peristiwa langit yang semarak: “Bulan Merah Muda”, bulan purnama pertama di musim semi di Belahan Bumi Utara. Meskipun namanya memberikan warna kemerahan, bulan itu sendiri tidak akan terlihat berwarna merah muda. Moniker ini berasal dari bunga liar phlox merah muda yang secara tradisional mekar sekitar waktu ini di Amerika Utara, sebagaimana dicatat oleh The Old Farmer’s Almanac.
Mengamati Bulan Merah Muda
Bulan Merah Muda akan mencapai puncaknya pada hari Rabu, 1 April, tetapi juga akan tampak cerah dan penuh pada malam hari Selasa, 31 Maret, dan Kamis, 2 April. Pengamat langit mendapat bonus pada hari Rabu: bulan akan muncul di dekat bintang terang Spica, menciptakan fitur ganda yang mencolok.
Untuk memaksimalkan pengamatan, periksa waktu terbitnya bulan setempat di wilayah Anda dan temukan ufuk timur yang tidak terhalang. Bulan akan terbit saat matahari terbenam, menawarkan pemandangan yang jelas ke seluruh Amerika Utara. Pada hari Kamis, bulan memudarnya hanya berjarak 1,8 derajat dari Spica—pertemuan jarak dekat yang perlu diperhatikan.
Signifikansi Budaya
Bulan Merah Muda bukan sekadar peristiwa astronomi; itu membawa beban budaya. Masyarakat adat telah lama melacak kedatangannya dengan nama yang berbeda: Algonquin menyebutnya sebagai “Breaking Ice Moon”, sedangkan Dakota mengenalnya sebagai “Bulan Saat Aliran Sungai Dapat Dilayari Lagi”. Anishinaabeg (Ojibwe) di wilayah Great Lakes bahkan menyebutnya sebagai “Broken Snowshoe Moon”.
Bulan Merah Muda juga selaras dengan perayaan keagamaan. Dalam Yudaisme, ini menandai dimulainya Paskah, sebuah acara kalender lunisolar yang dimulai saat matahari terbenam pada tanggal 1 April. Bagi umat Kristiani, bulan purnama musim semi pertama menentukan tanggal Minggu Paskah—tahun ini jatuh pada tanggal 5 April. Tradisi Ortodoks Timur merayakan Paskah seminggu kemudian, pada tanggal 12 April.
Melihat ke Depan: Bulan Biru yang Langka di Bulan Mei
Setelah tontonan bulan April, bulan Mei menghadirkan bulan purnama lainnya: “Bulan Bunga” (juga disebut “Bulan Menanam Jagung” atau “Bulan Susu”) pada tanggal 1 Mei. Hebatnya lagi, bulan Mei akan menampilkan dua bulan purnama, yang berpuncak pada “Bulan Biru” pada tanggal 31 Mei—bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender.
Terjadinya Blue Moon tidak terikat pada warna bulan, melainkan pada frekuensinya. Bulan purnama kedua dalam satu bulan jarang terjadi dan itulah sebabnya istilah “sekali dalam Bulan Biru” ada. Hal ini menjadikan bulan Mei sebagai waktu yang istimewa bagi para pengamat langit.
Bulan Merah Muda dan Bulan Biru yang akan datang mengingatkan kita akan keterhubungan antara astronomi, budaya, dan alam. Peristiwa-peristiwa ini bukan sekedar kejadian ilmiah; mereka adalah penanda waktu, tradisi, dan siklus alam yang sedang berlangsung.
