Perkawinan Neanderthal: Bukti Menyarankan Preferensi Laki-Laki dalam Kawin

0
7

Analisis genetik menunjukkan bahwa ketika Homo sapiens dan Neanderthal kawin silang, pola perkawinan kemungkinan besar tidak seimbang, dengan Neanderthal jantan dan Homo sapiens betina mendominasi pasangan tersebut. Kesimpulan ini muncul dari penelitian yang meneliti jejak DNA Neanderthal dan manusia pada kromosom seks, khususnya kromosom X, yang menunjukkan kurangnya materi genetik Neanderthal meskipun terjadi perkawinan silang yang luas antara kedua spesies tersebut.

Ketidakseimbangan Genetik

Sejak bukti pertama yang dikonfirmasi mengenai perkawinan silang sekitar 50.000 tahun yang lalu – dan mungkin lebih awal, hingga 200.000 tahun yang lalu – sudah jelas bahwa pertukaran genetik telah terjadi. Saat ini, populasi non-Afrika membawa DNA Neanderthal, namun distribusi DNA ini tidak merata. Para peneliti di University of Pennsylvania berfokus pada kromosom X manusia dan Neanderthal, mencatat bahwa kromosom X manusia hampir seluruhnya bebas dari DNA Neanderthal, sebuah anomali dibandingkan dengan kromosom lain.

Kemungkinan Penjelasan

Studi ini mempertimbangkan beberapa kemungkinan penyebab ketidakseimbangan ini. Yang pertama, ketidakcocokan hibrida, menunjukkan bahwa perbedaan genetik antar spesies mungkin menyebabkan masalah kesehatan atau reproduksi pada hibrida. Namun, kromosom X Neanderthal memang mengandung beberapa DNA manusia, yang menunjukkan kompatibilitas. Seleksi alam yang mendukung DNA manusia modern adalah kemungkinan lain, mengingat populasi manusia modern yang lebih besar dan penghapusan mutasi berbahaya yang lebih efektif. Namun, sisa DNA manusia pada kromosom X Neanderthal sebagian besar berada di wilayah non-fungsional, sehingga menghilangkan penjelasan ini.

Hipotesis Preferensi

Penjelasan yang paling meyakinkan, menurut para peneliti, adalah preferensi kawin: Neanderthal jantan lebih menyukai Homo sapiens betina, Homo sapiens betina lebih menyukai Neanderthal jantan, atau keduanya. Bias ini dapat menjelaskan pola genetik yang diamati jika Neanderthal jantan dan betina secara konsisten memilih satu sama lain dibandingkan pasangan dalam spesies mereka sendiri. Studi ini menekankan bahwa ini adalah penafsiran yang paling lugas, meskipun tidak dapat menentukan apakah interaksi ini bersifat suka sama suka.

Pertanyaan Tersisa

Pakar genetika lain tetap berhati-hati dan menunjukkan bahwa penjelasan alternatif belum sepenuhnya dikesampingkan. Misalnya, peristiwa kawin silang sebelumnya menunjukkan penggantian lengkap kromosom Neanderthal Y dengan kromosom manusia, yang menunjukkan adanya keterlibatan signifikan pada manusia laki-laki. Selain itu, ketidakcocokan hibrida mungkin tidak sama di kedua arah, dan elemen genetik jahat (penggerak meiosis) dapat semakin mengacaukan pertukaran genetik dengan mewariskan kromosom tertentu secara istimewa.

Kesimpulan utamanya adalah bukti genetik secara kuat menunjukkan adanya pola perkawinan non-acak dalam perkawinan silang antara Homo sapiens dan Neanderthal, meskipun alasan pastinya masih belum diketahui.

Penelitian ini menyoroti interaksi kompleks antara biologi, perilaku, dan genetika dalam membentuk sejarah evolusi spesies kita.