Novo Nordisk, raksasa farmasi di balik Wegovy dan Ozempic, menghadapi tantangan signifikan dengan pengobatan penurunan berat badan generasi berikutnya, CagriSema. Hasil uji klinis yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa obat tersebut tidak memenuhi harapan, sehingga menyebabkan penurunan tajam harga saham perusahaan. Hasil ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan dominasi Novo Nordisk di pasar obat obesitas yang berkembang pesat.
Hasil Uji Coba Mengecewakan
CagriSema, suntikan mingguan yang menggabungkan cagrilintide dan semaglutide, dirancang untuk mengungguli Wegovy milik Novo Nordisk dan bersaing langsung dengan Zepbound (tirzepatide) milik Eli Lilly. Tujuannya adalah untuk menunjukkan setidaknya efektivitas penurunan berat badan yang sebanding. Namun, penelitian tahap akhir yang melibatkan 809 peserta menunjukkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 23% setelah 84 minggu, kurang dari 25,5% yang dicapai oleh tirzepatide.
“Ini adalah sebuah perubahan dan kegagalan,” kata Søren Løntoft Hansen, analis senior di AL Sydbank.
Saham Novo Nordisk anjlok 16,5% setelah pengumuman tersebut, menghapus hampir 60% keuntungan mereka selama setahun terakhir. Sebaliknya, saham Eli Lilly naik 4,3%, menunjukkan pergeseran kepercayaan investor terhadap produsen obat saingannya.
Pentingnya Amylin dan GLP-1
Desain CagriSema bertujuan untuk memanfaatkan efek gabungan cagrilintide, meniru amylin (hormon pankreas), dan semaglutide, bahan aktif dalam Wegovy dan Ozempic (meniru GLP-1). Idenya adalah untuk meningkatkan penekanan nafsu makan dan meningkatkan perasaan kenyang lebih cepat. Fakta bahwa obat ini tidak memberikan hasil yang lebih unggul dibandingkan tirzepatide merupakan pukulan bagi pendekatan ini.
Hal ini penting karena pengobatan obesitas menjadi semakin kompetitif. Pasar ini bukan hanya tentang penurunan berat badan; ini tentang kemanjuran, efek samping, dan kenyamanan. Obat yang kurang efektif berisiko kehilangan pangsa pasar dibandingkan obat alternatif, meskipun obat tersebut masih membantu orang menurunkan berat badan.
Pergeseran Peruntungan Novo Nordisk
Novo Nordisk telah menjadi pemimpin pasar dalam obat penurun berat badan dan diabetes, serta menjadi perusahaan paling berharga di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perusahaan telah berulang kali menurunkan proyeksi penjualan dan labanya seiring dengan keberhasilan Eli Lilly dengan tirzepatide. Novo Nordisk mengandalkan CagriSema untuk mendapatkan kembali momentum.
Analis di UBS telah menurunkan perkiraan penjualan puncak obat GLP-1 Novo Nordisk, karena mengantisipasi hasil yang mengecewakan. Data terbaru mengkonfirmasi kekhawatiran tersebut, dengan Emmanuel Papadakis dari Deutsche Bank secara blak-blakan menyatakan bahwa CagriSema “tampaknya sudah ketinggalan zaman sekarang.”
Prospek Masa Depan
Meskipun mengalami kemunduran, CEO Novo Nordisk Mike Doustdar membela obat tersebut, dengan menyebutnya sebagai “obat yang luar biasa”. Perusahaan masih berharap studi dengan dosis yang lebih tinggi akan menunjukkan hasil yang lebih baik. Mereka telah menyerahkan obat tersebut kepada regulator AS untuk mendapatkan persetujuan berdasarkan data uji coba sebelumnya dan mengantisipasi keputusannya pada akhir tahun ini.
Nasib CagriSema kini bergantung pada data klinis tambahan dan persetujuan peraturan. Jika berhasil, CagriSema masih bisa mendapatkan ceruk pasar. Namun, hasil saat ini menandakan adanya pergeseran dalam dinamika persaingan, dengan Eli Lilly memposisikan dirinya sebagai pelopor dalam obat penurun berat badan generasi berikutnya.























