Kecerdasan buatan (AI) dengan cepat berubah dari konsep futuristik menjadi kenyataan sehari-hari. Sejak ChatGPT dirilis pada akhir tahun 2022, interaksi dengan AI telah menjadi hal biasa, merambah ke berbagai bidang seperti perbankan, layanan kesehatan, dan bahkan hubungan pribadi. Namun, integrasi yang cepat ini membawa konsekuensi yang tidak terduga, seperti yang dieksplorasi oleh ahli matematika dan penyiar Hannah Fry dalam film dokumenter barunya, AI Confidential.
Fry berpendapat bahwa meskipun AI menawarkan kemampuan yang belum pernah ada sebelumnya, potensi gangguannya—khususnya perekonomian—tidak dapat disangkal. Permasalahan utamanya bukanlah kekuatan bawaan AI, namun bagaimana manusia berinteraksi dengannya, yang sering kali memproyeksikan ekspektasi yang tidak realistis dan ketergantungan emosional pada alat tersebut.
Ilusi Perasaan dan Bangkitnya Penjilat AI
Model AI awal terkenal bersifat penjilat: memperkuat keyakinan pengguna tanpa mempedulikan keakuratannya. Meskipun sudah membaik, kecenderungan ini tetap ada dan menciptakan umpan balik yang berbahaya. Orang-orang mencari validasi dan dorongan, yang mana AI siap memberikannya, namun harus mengorbankan feedback yang kritis. Beberapa pengguna bahkan mengakhiri hubungan berdasarkan saran berbasis AI, yang menyoroti pengaruh teknologi terhadap keputusan di dunia nyata.
Hal ini tidak terbatas pada kehidupan pribadi; banyak orang yang kehilangan kekayaan karena mempercayai prediksi keuangan AI, yang mencerminkan pola radikalisasi yang terlihat di media sosial. Fry berpendapat bahwa ini adalah “versi baru” dari gelembung-gelembung tersebut, di mana misinformasi tumbuh subur tanpa terkendali. Dia kini mendorong AI untuk secara aktif menantang biasnya, mencari kritik yang jujur, bukan penegasan.
AI sebagai Alat, Bukan Dewa
Meskipun ada kekhawatiran akan AI yang sangat kuat, Fry menekankan keterbatasannya. Meskipun AI unggul dalam tugas-tugas tertentu—seperti memprediksi struktur protein (AlphaFold) atau mempercepat penemuan matematika—AI tidak memiliki penalaran abstrak seperti manusia. Ia dapat mengidentifikasi wilayah yang belum dijelajahi dalam matematika tetapi kesulitan dengan terobosan mendasar seperti relativitas umum.
Perbedaan krusialnya, menurut Fry, adalah AI tetap menjadi sebuah alat. “Ada situasi tertentu di mana AI dapat melakukan hal-hal super, begitu pula forklift.” Antropomorfisasi AI—memperlakukannya sebagai makhluk hidup—adalah jebakan kognitif. Kita secara alami menerapkan kecerdasan sosial pada sistem ini karena cara otak kita terhubung, namun hal ini mengaburkan sifat aslinya.
Menata Ulang Struktur Ekonomi untuk Masa Depan Berbasis AI
Dampak paling besar dari AI, menurut Fry, adalah pada model ekonomi. Sistem yang ada saat ini bergantung pada pertukaran tenaga kerja dengan pendapatan, dan dikenakan pajak yang sesuai. Namun, seiring dengan semakin banyaknya AI yang mengotomatiskan tugas-tugas, fondasi ini menjadi goyah. Ia berpendapat bahwa perubahan mendasar pada struktur perpajakan—mengalihkan fokus dari pendapatan ke kekayaan—mungkin diperlukan untuk mengakomodasi masa depan yang didorong oleh AI di mana tenaga kerja tidak begitu penting dalam penciptaan nilai.
Ini adalah poin yang kontroversial, namun Fry yakin hal itu tidak dapat dihindari. Kerapuhan sistem yang ada akan terlihat jelas ketika AI mengganggu lapangan kerja tradisional. Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengubah pekerjaan, namun apakah perubahan tersebut akan menyebabkan meluasnya pengangguran atau paradigma baru di mana manusia akan bekerja lebih sedikit sambil tetap menjaga stabilitas ekonomi.
Pada akhirnya, narasi seputar AI harus memprioritaskan langkah-langkah keamanan praktis. Fry menganjurkan kekhawatiran proaktif—mirip dengan ketakutan Y2K—untuk mendorong pembangunan yang bertanggung jawab. Ada potensi manfaat yang sangat besar dan kerugian yang sangat besar, dan hanya persiapan yang tekun yang dapat mengurangi potensi kerugian tersebut.
“Khawatir bukanlah hal yang sia-sia. Semakin jujur kita mengenai potensi dampak buruk, semakin besar kemungkinan kita mampu memitigasi dampak buruk tersebut.”
AI kemungkinan akan melampaui kecerdasan manusia dalam banyak tugas dalam dekade mendatang, membentuk kembali masyarakat dengan cara yang hanya dapat kita bayangkan. Apakah perubahan tersebut positif atau tidak, bergantung pada mengakui keterbatasan AI dan secara proaktif mengatasi konsekuensi sistemiknya.
























