Suar Matahari Dipicu oleh Longsoran Magnetik, Data Baru Dikonfirmasi

0
9

Pengamatan baru-baru ini dari misi Solar Orbiter Badan Antariksa Eropa (ESA) telah memberikan wawasan yang belum pernah ada sebelumnya mengenai mekanisme jilatan api matahari, dan mengungkapkan bahwa hal tersebut didorong oleh peristiwa penyambungan kembali magnetik. Peristiwa ini melepaskan sejumlah besar energi, yang secara efektif “menghujani” plasma ke seluruh atmosfer Matahari.

Kekuatan Suar Matahari

Lidah api matahari adalah salah satu fenomena paling energik di tata surya kita. Hal ini diakibatkan oleh pelepasan energi secara tiba-tiba yang tersimpan dalam medan magnet yang rumit dan rumit. Dalam beberapa menit, garis-garis medan magnet yang berlawanan arah putus dan terhubung kembali, dengan cepat memanaskan plasma hingga jutaan derajat dan mempercepat partikel menjauh dari lokasi penyambungan kembali.

Mengapa hal ini penting: Suar yang paling kuat dapat memicu badai geomagnetik di Bumi, yang berpotensi mengganggu komunikasi radio dan bahkan merusak satelit. Memahami peristiwa-peristiwa ini sangat penting untuk prakiraan cuaca luar angkasa dan melindungi infrastruktur penting.

Pengamatan yang Belum Pernah Ada Sebelumnya Mengungkapkan Pemicunya

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah mengetahui bahwa rekoneksi magnetik adalah penyebab terjadinya suar, namun dinamika pasti pelepasan energi ini masih sulit dipahami. Pengamatan Solar Orbiter – dari empat instrumen yang saling melengkapi – memberikan gambaran paling lengkap tentang suar yang pernah tercatat.

Citra resolusi tinggi menangkap perubahan corona (atmosfer luar) Matahari setiap dua detik, dengan fokus pada fitur-fitur yang lebarnya hanya beberapa ratus kilometer. Secara bersamaan, instrumen SPICE, STIX, dan PHI menganalisis variasi suhu dan kedalaman mulai dari korona hingga permukaan Matahari.

Longsoran Magnetik Sedang Beraksi

Pengamatan mengungkapkan bahwa suar dimulai dengan longsoran magnet: fitur seperti pita dengan cepat turun melalui atmosfer sebelum suar itu sendiri. Aliran “hujan gumpalan plasma” ini menunjukkan peningkatan pengendapan energi seiring dengan semakin intensifnya nyala api, dan terus berlanjut bahkan setelah ledakan awal mereda.

“Kami tidak menyangka bahwa proses longsoran salju dapat menghasilkan partikel berenergi tinggi seperti itu,” kata Dr. Pradeep Chitta, astronom di Institut Max Planck untuk Penelitian Tata Surya.

Ini adalah pertama kalinya proses ini diamati pada resolusi spasial dan temporal yang tinggi. Data tersebut menegaskan bahwa mekanisme longsoran salju berperan penting dalam pelepasan energi suar.

Penelitian Masa Depan

Para ilmuwan menekankan perlunya pencitraan sinar-X beresolusi lebih tinggi dari misi masa depan untuk sepenuhnya menguraikan detail yang tersisa dari proses ini. Pertanyaan yang masih terbuka adalah apakah mekanisme longsoran ini terjadi di semua suar, dan apakah berlaku juga pada bintang suar lainnya.

Penelitian yang dipublikasikan di Astronomy & Astrophysics ini menegaskan bahwa longsoran magnetik adalah mesin utama yang menggerakkan jilatan api matahari, dan menyoroti pentingnya proses ini untuk memahami cuaca luar angkasa. Temuan ini merupakan salah satu hasil paling menarik dari Solar Orbiter sejauh ini, yang menawarkan wawasan baru yang penting mengenai ledakan paling dahsyat di Matahari.


LP Chitta dkk. 2026. Longsoran magnet sebagai mesin utama yang menggerakkan jilatan api matahari. A&A 705, A113; doi: 10.1051/0004-6361/202557253