Demam Tifoid Kuno Menjadi Tidak Dapat Diobati: Ancaman Global yang Meningkat

0
11

Demam tifoid, penyakit yang telah menjangkiti umat manusia selama ribuan tahun, kini mengalami kebangkitan yang berbahaya karena berkembang pesatnya resistensi antibiotik. Meskipun sebagian besar terdapat di negara-negara maju, patogen kuno ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang penting di banyak belahan dunia. Penelitian terbaru menegaskan bahwa strain yang resistan terhadap obat tidak hanya semakin meningkat prevalensinya namun juga secara aktif menggantikan bakteri yang rentan, sehingga semakin sedikit pilihan pengobatan yang tersedia.

Bangkitnya Penyakit Tifoid yang Resisten Terhadap Obat (XDR).

Bakteri Salmonella enterica serovar Typhi (S. Typhi), penyebab demam tifoid, mulai resisten terhadap berbagai antibiotik. Sebuah studi tahun 2022 yang menganalisis hampir 3.500 strain dari Nepal, Bangladesh, Pakistan, dan India mengungkapkan peningkatan tajam pada XDR Typhi. Strain ini kebal terhadap antibiotik garis depan yang umum seperti ampisilin, kloramfenikol, dan trimetoprim/sulfametoksazol, dan sekarang menunjukkan resistensi terhadap obat-obatan baru seperti fluoroquinolones dan sefalosporin generasi ketiga.

Hal ini penting karena antibiotik saat ini merupakan satu-satunya pengobatan yang efektif untuk tifus. Ketika resistensi menyebar, pengobatan standar menjadi tidak berguna, sehingga meningkatkan risiko penyakit parah dan kematian. Tifus yang tidak diobati dapat berakibat fatal pada 20% kasus, dengan lebih dari 13 juta kasus dilaporkan pada tahun 2024 saja.

Penyebaran Global dan Kekhawatiran Mendesak

Penyebaran XDR Typhi semakin cepat. Meskipun Asia Selatan masih menjadi hotspot utama, dengan 70% kasus global, bakteri ini telah terdeteksi di Asia Tenggara, Afrika Timur dan Selatan, dan bahkan di negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada.

Para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi strain XDR di Pakistan pada tahun 2016, dan pada tahun 2019, strain tersebut telah menjadi genotipe dominan di sana. Kecepatan evolusi ini mengkhawatirkan, sebagaimana dicatat oleh peneliti Universitas Stanford, Jason Andrews:

“Kecepatan munculnya dan menyebarnya strain S. Typhi yang sangat resisten dalam beberapa tahun terakhir benar-benar memprihatinkan, dan menyoroti kebutuhan untuk segera memperluas tindakan pencegahan, khususnya di negara-negara dengan risiko terbesar.”

Garis Pertahanan Terakhir Runtuh

Saat ini, azitromisin adalah satu-satunya antibiotik oral yang efektif melawan tipus. Namun, mutasi yang menyebabkan resistensi terhadap obat ini kini mulai bermunculan, sehingga mengancam hilangnya semua pilihan pengobatan oral.

Secara historis, antimikroba generasi ketiga seperti kuinolon dan sefalosporin digunakan, namun resistensi terhadap obat ini telah meluas di wilayah seperti Bangladesh, India, dan Nepal sejak awal tahun 2000an.

Pencegahan: Satu-Satunya Solusi yang Layak

Pendekatan yang paling menjanjikan untuk mencegah wabah di masa depan adalah vaksinasi. Vaksin konjugat tifoid (TCV) telah diprakualifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia, dan beberapa negara, terutama Pakistan, telah menerapkan program imunisasi rutin. Sebuah studi tahun 2021 di India menunjukkan bahwa vaksinasi anak-anak di daerah perkotaan dapat mencegah hingga 36% kasus dan kematian tifus.

Memperluas akses terhadap vaksin secara global sangatlah penting. Jika tidak dikendalikan, penyebaran XDR Typhi dapat memicu krisis kesehatan yang meluas, yang mencerminkan cepatnya penyebaran varian penyakit yang terlihat selama pandemi COVID-19.

Intinya

Resistensi antibiotik adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, bahkan melebihi HIV/AIDS dan malaria. Munculnya jenis penyakit tifus yang tidak dapat diobati menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi dalam distribusi vaksin dan penelitian antibiotik baru. Peluang untuk mengatasi ancaman ini semakin dekat dan tindakan tegas sangat penting untuk menghindari bencana kesehatan global yang dapat dicegah.