Dokter kini menggunakan replikasi virtual jantung masing-masing pasien untuk menyempurnakan prosedur penting dalam menangani gangguan irama jantung yang berbahaya. Fungsi “kembar digital” ini serupa dengan simulator penerbangan, sehingga dokter dapat meninjau opsi intervensi pada model komputer sebelum merawat pasien, sehingga berpotensi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan metode yang ada saat ini. Penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa teknologi ini dapat mengubah pengobatan jantung dan pada akhirnya meluas ke bidang medis lainnya.
Masalah Perawatan Saat Ini
Dokter biasanya menangani detak jantung cepat yang berbahaya dengan memasang kateter ke jantung untuk menghancurkan jaringan yang menyebabkan aktivitas listrik tidak menentu. Meskipun pendekatan invasif minimal ini berhasil pada sekitar dua pertiga pasien, pendekatan ini bergantung pada trial-and-error di dalam tubuh pasien. Hal ini dapat melibatkan prosedur yang berkepanjangan dengan obat penenang, sehingga meningkatkan risiko. Tantangan utamanya adalah mengidentifikasi sumber pasti sinyal listrik yang rusak dengan cepat dan akurat.
Bagaimana Digital Twins Mengubah Banyak Hal
Para peneliti di Universitas Johns Hopkins mengembangkan doppelgänger digital jantung menggunakan pemindaian MRI resolusi tinggi. Perangkat lunak ini merekonstruksi jantung dalam tiga dimensi, menetapkan sifat listrik berdasarkan jaringan sehat dan rusak. Hal ini memungkinkan simulasi perjalanan sinyal listrik, menunjukkan dengan tepat area di mana sinyal melambat, terbelah, atau berputar, sehingga memicu ritme yang berbahaya.
Dokter kemudian secara virtual dapat melakukan ablasi (menghancurkan jaringan yang rusak) pada model tersebut untuk mengidentifikasi pendekatan yang paling efektif sebelum menyentuh pasien. Seperti yang dikatakan peneliti Natalia Trayanova, “Anda merawat si kembaran digital sebelum merawat pasien.”
Hasil Awal dan Implikasi di Masa Depan
Dalam uji coba terhadap 10 pasien yang menderita takikardia ventrikel yang berpotensi fatal, pendekatan digital twin secara signifikan mengurangi waktu prosedur – dari sekitar tiga jam menjadi sekitar 30 menit. Irama abnormal telah dihilangkan pada semua peserta, dan sebagian besar tidak lagi memerlukan pengobatan. Meskipun dua pasien mengalami kekambuhan singkat, defibrilator yang ditanamkan dapat memperbaikinya.
Ini bukan hanya tentang prosedur yang lebih cepat; ini tentang presisi dan pengurangan risiko. Meskipun uji coba yang lebih besar diperlukan untuk memastikan manfaat ini, para ahli sepakat bahwa teknologi ini sangat inovatif. Keberhasilan di bidang kardiologi menunjukkan bahwa digital twins dapat segera digunakan untuk memandu keputusan pengobatan di bidang seperti terapi mikrobioma dan bedah ortopedi.
Munculnya digital twins mewakili perubahan mendasar dalam dunia kedokteran: dari pengobatan berdasarkan tebakan terbaik menjadi pengobatan berdasarkan simulasi yang dipersonalisasi. Hal ini secara signifikan dapat meningkatkan hasil dan efisiensi di banyak bidang layanan kesehatan.
Teknologi ini cukup menjanjikan, namun evaluasi lebih lanjut akan menentukan apakah teknologi ini benar-benar merupakan “game-changer” atau sekadar alat yang canggih.























